Ditulis oleh waryo Minggu, 29 Maret 2009 13:12
INNALILLAH Wainna Illaihirojiuun. Indonesia kembali berduka. Cobaan Illahi kembali hadir di tengah-tengah kita dengan jebolnya tanggul Situ Gintung, Ciputat, Tangerang, Provinsi Banten, jam 02.00 WIB. Dapat dibayangkan bencana datang dini hari ini, saat warga setempat tidur pulas. Korban dari lokasi yang padat penduduk itu pun luar biasa besar.
Saat tulisan ini disusun, sebanyak 52 jiwa melayang. Kemungkinan mereka yang kehilangan nyawa masih bisa bertambah, mengingat wasih banyak warga yang belum diketahui nasibnya. Pencarian masih terus dilakukan. Sungguh kepedihan tak terperi. Kerugian masih terus bertambah, terutama dari aspek material--kerusakan bangunan dan harta benda milik korban.
Tercatat sekitar 300 rumah rusak dan hanyut. Total areal yang terendam air mencapai 10 hektar. Kondisi terparah dialami RT 02, RT 03, RT 04 yang berada di RW 08 Kampung Poncol, Situ Gintung, Cireundeu, Ciputat, Tangerang. Nilai kerugian akibat bencana belum dapat dihitung.
Tragedi ini seolah menjadi teguran Ilahi kepada kita segenap warga bangsa. Terlebih saat pemikiran, perhatian, energi, dan waktu kita tengah tersedot untuk persiapan memasuki hajatan demokrasi, Pemilu 2009, yang makin dekat.
Makin dekatnya hari H pemilu membuat suhu kompetisi makin panas. Tema kampanye para elite politik tak jarang bernada tajam, cenderung memojokkan pihak lain. Di lain pihak, tak jarang pula elite yang emosional menyampaikan kelemahan pihak lain. Buntutnya berpotensi ditanggapi secara keliru oleh masyarakat.
Banyak peserta pemilu yang tidak mengindahkan rambu-rambu yang sudah ditetapkan. Badan Pengawas Pemilu mencatat, ada 197 pelanggaran pemilu yang terjadi di seluruh Indonesia. Persoalan pemilu juga menghangat lantaran persoalan pengadaan dan distribusi logistik yang belum maksimal.
Di tengah situasi panas, kita dikejutkan oleh kabar duka dari Situ Gintung. Tapi di tengah duka nestapa, kita juga bisa melihat peristiwa ini sebagai “oase”. Tragedi ini menjadi momentum bagi para elite politik kita untuk sejenak menurunkan tensi kompetisi, mengubah haluan dari jalur politik menjadi kerja kemanusiaan.
Itulah yang ditunjukkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan mengubah agenda cuti yang semula untuk kampanye di Serang, Banten. Presiden meluncur selepas sholat Jumat menuju Situ Gintung. Di sini, Presiden memimpin rapat singkat menentukan langkah darurat untuk mengatasi dampak bencana.
Rapat di lokasi kejadian diikuti yang dipimpin Presiden SBY diikuti Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menkes Siti Fadilah Supari, Menteri PU Joko Kirmanto dan Bupati Tangerang Ismeth Iskandar. Wakil Presiden M Jusif Kalla turut mendampingi Presiden.
Usai rapat Presiden menginstruksikan agar diberlakukan kondisi darurat. Mensos dan Menkes diinstruksikan Presiden untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Apa yang disampaikan Presiden sejalan dengan pernyataannya dulu.
Dalam perboncangan dengan wartawan di kediaman Cikeas, Bogor, Jawa Barat, SBY menegaskan, selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, SBY akan menyukseskan partai bernomor urut 31 itu dengan ikut berkampanye. SBY mengambil cuti pada hari Jumat untuk berkampanye.
Tapi meskipun sedang kampanye, kalau harus mengambilan keputusan pada tingkat Presiden, ada situasi emergency, SBY siap meninggalkan kampanye dan menjalankan tugas sebagai Kepala Negara/Pemerintahan. “Kalau ada apa-apa kita akan meresponnya dengan baik,” kata SBY kala itu.
Seyogyanya memang demikian, pemimpin bangsa ini cermat menentukan sikapnya kapan waktunya untuk kepentingan pribadi, kapan untuk kepentingan bangsa dan rakyatnya.
Saat tulisan ini disusun, sebanyak 52 jiwa melayang. Kemungkinan mereka yang kehilangan nyawa masih bisa bertambah, mengingat wasih banyak warga yang belum diketahui nasibnya. Pencarian masih terus dilakukan. Sungguh kepedihan tak terperi. Kerugian masih terus bertambah, terutama dari aspek material--kerusakan bangunan dan harta benda milik korban.
Tercatat sekitar 300 rumah rusak dan hanyut. Total areal yang terendam air mencapai 10 hektar. Kondisi terparah dialami RT 02, RT 03, RT 04 yang berada di RW 08 Kampung Poncol, Situ Gintung, Cireundeu, Ciputat, Tangerang. Nilai kerugian akibat bencana belum dapat dihitung.
Tragedi ini seolah menjadi teguran Ilahi kepada kita segenap warga bangsa. Terlebih saat pemikiran, perhatian, energi, dan waktu kita tengah tersedot untuk persiapan memasuki hajatan demokrasi, Pemilu 2009, yang makin dekat.
Makin dekatnya hari H pemilu membuat suhu kompetisi makin panas. Tema kampanye para elite politik tak jarang bernada tajam, cenderung memojokkan pihak lain. Di lain pihak, tak jarang pula elite yang emosional menyampaikan kelemahan pihak lain. Buntutnya berpotensi ditanggapi secara keliru oleh masyarakat.
Banyak peserta pemilu yang tidak mengindahkan rambu-rambu yang sudah ditetapkan. Badan Pengawas Pemilu mencatat, ada 197 pelanggaran pemilu yang terjadi di seluruh Indonesia. Persoalan pemilu juga menghangat lantaran persoalan pengadaan dan distribusi logistik yang belum maksimal.
Di tengah situasi panas, kita dikejutkan oleh kabar duka dari Situ Gintung. Tapi di tengah duka nestapa, kita juga bisa melihat peristiwa ini sebagai “oase”. Tragedi ini menjadi momentum bagi para elite politik kita untuk sejenak menurunkan tensi kompetisi, mengubah haluan dari jalur politik menjadi kerja kemanusiaan.
Itulah yang ditunjukkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan mengubah agenda cuti yang semula untuk kampanye di Serang, Banten. Presiden meluncur selepas sholat Jumat menuju Situ Gintung. Di sini, Presiden memimpin rapat singkat menentukan langkah darurat untuk mengatasi dampak bencana.
Rapat di lokasi kejadian diikuti yang dipimpin Presiden SBY diikuti Menko Kesra Aburizal Bakrie, Menkes Siti Fadilah Supari, Menteri PU Joko Kirmanto dan Bupati Tangerang Ismeth Iskandar. Wakil Presiden M Jusif Kalla turut mendampingi Presiden.
Usai rapat Presiden menginstruksikan agar diberlakukan kondisi darurat. Mensos dan Menkes diinstruksikan Presiden untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Apa yang disampaikan Presiden sejalan dengan pernyataannya dulu.
Dalam perboncangan dengan wartawan di kediaman Cikeas, Bogor, Jawa Barat, SBY menegaskan, selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, SBY akan menyukseskan partai bernomor urut 31 itu dengan ikut berkampanye. SBY mengambil cuti pada hari Jumat untuk berkampanye.
Tapi meskipun sedang kampanye, kalau harus mengambilan keputusan pada tingkat Presiden, ada situasi emergency, SBY siap meninggalkan kampanye dan menjalankan tugas sebagai Kepala Negara/Pemerintahan. “Kalau ada apa-apa kita akan meresponnya dengan baik,” kata SBY kala itu.
Seyogyanya memang demikian, pemimpin bangsa ini cermat menentukan sikapnya kapan waktunya untuk kepentingan pribadi, kapan untuk kepentingan bangsa dan rakyatnya.
Lawakan Ala Cilacap
Tradisi & Budaya
|
Penyelamatan Ribuan Wayang Kuno Terkendala Dana Minggu, 17 Mei 2009 03:19 |
|
Komunitas Pinggir Ajarkan Tradisi Menulis di Kalangan Remaja Kamis, 12 Maret 2009 09:47 |
|
Sedekah Laut Sedot Wisatawan ke Cilacap Selasa, 13 Januari 2009 12:14 |
Lain - Lain
|
Aktivis Seni Semarang Berduka Atas Kematian WS Rendra Jumat, 07 Agustus 2009 19:45 |
|
Terimakasih Toek Seorang Bernama Kuper Senin, 30 Maret 2009 12:57 |
|
Bayi Kembar Siam Asal Ambon Meninggal Minggu, 15 Maret 2009 08:24 |
|
Petir Menyambar Rumah Warga Rabu, 25 Februari 2009 08:45 |














Comments