Ditulis oleh waryo Kamis, 02 April 2009 03:41
Belakangan ini program pemerintah Bantuan Langsung Tunai tengah dikontroversi para politisi oposan. Tetapi, yang menarik, terjadi inkonsistensi pemikiran dan sikap politikus parpol oposisi. Coba tengok petilan berita Kompas yang dikutip di bawah ini: Megawati juga mempertanyakan sampai kapan pemerintah mampu memberikan bantuan langsung tunai (BLT). Oleh karena itu, dia dengan tegas mengatakan tidak setuju dengan pemberian BLT. Menurut dia, BLT melatih warga menjadi 'pengemis'. "Saya tidak setuju pemberian BLT. Seberapa kuat pemerintah bisa memberikan BLT. Itu membuat bangsa kita menjadi bangsa meminta-minta. Rakyat butuh kailnya, pancingannya, bukan ikannya," ujar Megawati saat berorasi di depan 150.000 partisipan PDI P. (Sumber: http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/01/11573978/megawati.pemerintah.jangan.ngecap.blt.ajari.mengemis).
Maka bermunculan komentar mempertanyakan sikap politik anti-BLT di atas. Antara lain berbunyi seperti ini: udin @ Kamis, 18 September 2008 | 21:07 WIB
Maaf Bu Mega, cobalah berempati jadi seorang janda tua 70an tahun, tidak punya anak, hidup di tepian hutan, rumah tanpa listrik, lantai tanah...makannya nasi aking..kalo ada...kalo nggak ada ...hanya meringkuk menahan lapar...Negara harus melindungi dan memelihara kaum duafa...lebih mulia..dermakan sebagian aset anda tak usah banyak omong ..itu yang dibutuhkan mereka..Bu.
Ada lagi komentar begini: John R. @ Sabtu, 23 Agustus 2008 | 07:30 WIB
Mengapa bu Mega tega mencap penerima BLT sbg pengemis. Klo begitu ibu juga pengemis krn pernah menerima bantuan.
Lalu setahun kemudian, tokoh yang sama dari parpol yang sama mengatakan sebaliknya. Kompas membuat judul begini: Megawati Tak Mau Disebut Anti-BLT. Laporan Kompas menulis: Dalam jumpa pers di kediamannya, Selasa (24/3), Mega mengatakan, sebagai partai oposisi, pihaknya berhak untuk mempertanyakan dan melakukan kontrol atas program yang disepakati bersama di DPR.
"Kami sebagai oposisi di DPR selalu melakukan pemantauan dan mengontrol. Kami ingin tahu hasil keputusan yang disepakati. Hasil BLT harus bisa membantu masyarakat yang mengalami himpitan ekonomi," kata Mega. (Sumber: http://kompas.co.id/read/xml/2009/03/24/13160977/megawati.tak.mau.disebut.anti-blt).
Sekjen PDIP Pramono Anung juga tidak mau kalah mendukung program BLT dengan cara melakukan pengontrolan di lapangan supaya BLT sampai di tangan masyarakat penerimanya. Petikan berita Kompas memuat begini: Pramono mengatakan, sebagai partai oposisi, pihaknya akan mengerahkan para calegnya untuk memantau pembagian BLT. "Caleg dan relawan kami akan bergerak. Dalam waktu dekat, DPP PDI Perjuangan akan memulai gerakan ini dengan memantau sebuah lokasi pembagian BLT di sebuah wilayah Jabotabek," ujarnya. (Sumber: http://www.kompas.com/read/xml/2009/03/24/13073142/pdi-p.blt.jangan.dijadikan.komoditas.politik).
Klimaks dari inkonsistensi adalah iklan PDIP mendukung BLT yang ditayangkan terus-menerus di TV. Di situ PDIP seolah mengambil peran pembela rakyat sehingga BLT sampai di tangan rakyat dan membahagiakan rakyat. Di situ ditayangkan pula bagaimana rakyat kemudian berterima kasih pada PDIP atas penerimaan BLT.
Parpol pendukung pemerintah atau Presiden SBY sebagai inisiator, pembuat dan pelaksana kebijakan BLT sendiri justru tak pernah beriklan BLT di TV. Tak pernah bergembar-gembor mengklaim seolah menjadi pionir dan penyelamat apalagi mengeksploitasi rasa terima kasih rakyat. Sedangkan PDIP bersama pentolannya malah ambil kesempatan dalam kesempitan. Melahap di tikungan.
Lawakan Ala Cilacap
Tradisi & Budaya
|
Penyelamatan Ribuan Wayang Kuno Terkendala Dana Minggu, 17 Mei 2009 03:19 |
|
Komunitas Pinggir Ajarkan Tradisi Menulis di Kalangan Remaja Kamis, 12 Maret 2009 09:47 |
|
Sedekah Laut Sedot Wisatawan ke Cilacap Selasa, 13 Januari 2009 12:14 |
Lain - Lain
|
Aktivis Seni Semarang Berduka Atas Kematian WS Rendra Jumat, 07 Agustus 2009 19:45 |
|
Terimakasih Toek Seorang Bernama Kuper Senin, 30 Maret 2009 12:57 |
|
Bayi Kembar Siam Asal Ambon Meninggal Minggu, 15 Maret 2009 08:24 |
|
Petir Menyambar Rumah Warga Rabu, 25 Februari 2009 08:45 |














Comments