Ditulis oleh waryo Selasa, 03 Februari 2009 19:10

KEJAKSAAN Agung punya gawe agung nan luhur. Bekerja sama dengan sekolah-sekolah, mendirikan kantin kejujuran (Kanjur) atau Warung Kejujuran (Wajur). Para siswa disilakan mengambil sendiri barang apa saja yang dibeli dan membayarkannya sendiri di kotak uang. Mengambil pengembalian sendiri. Yang namanya kejujuran diuji, tergiurkah mengambil yang bukan hak dan miliknya? Atau bertahan dengan prinsip kejujuran, tidak memakan atau mengambil sesuatu bukan milik sendiri.
Sukses program ini, dalam jangka pendek, adalah defisit yang tipis. Semakin besar defisit maka tambah besar pula persoalan kejujuran di kalangan siswa sekolah tersebut. Dalam jangka panjang, siswa terdidik sejak dini dan kelak ketika dewasa bakal tertanam kuat kejujuran tersebut. Ketika mereka kelak menjadi pejabat rendahan hingga tinggi atau pengurus di ormas, asosiasi, perusahaan swasta apa pun, tak pernah ngembat sesuatu yang bukan miliknya.
Orang bisa pesimistis dan optimistis dengan cara-cara Kejagung tadi. Pesimistis karena soal mentalitas, karakter termasuk soal kejujuran, sesungguhnya datang dari rumah tangga. Saya ingat ketika masih belum sekolah sampai SD, ibu selalu memberi contoh sekaligus petuah betapa pentingnya kejujuran. Jika terbiasa tak jujur, kata ibu saya, di mana pun kita berada pasti tak pernah mendapat kepercayaan orang. Katanya lagi, biasanya orang lebih suka mengenang yang tak baik tentang kita. Karena itu, simpulnya, jangan pernah kita dikenang orang sebagai pribadi yang tak jujur.
Karena itu, saya menduga, jangan-jangan perilaku korup atau banyaknya para pejabat dan petinggi yang tertangkap ngembat dana yang bukan milik atau haknya, dulunya dari keluarga berantakan. Dari orang tua mereka yang tak pernah memberi teladan atau pengajaran moral. Dari keluarga yang sesungguhnya terbiasa atau menghalalkan korupsi. Maling gede-gedean itu biasanya dimulai dari maling kecil-kecilan.
Kita memilih yang optimistis. Kejujuran lewat sekolah bisa dilatih dan kelak menebal terus sampai tua nanti. Selain itu, kita percaya dengan penegakan hukum era pemerintahan sekarang. Kalau mau jujur, baru pada pemerintahan SBY ini saja Indonesia memulai keseriusan memberantas korupsi. Baru era sekarang Indonesia konkret dalam penegakan hukum. Hukum ditegakkan, tanpa pandang bulu, tanpa basa-basi, dan tidak ecek-ecek. Siapa pun bisa diperiksa, bisa didakwa dan bisa ditahan.
Tetapi, langkah dan komitmen SBY ini bisa cuma melompong alias jadi busa kosong apalabila para pemimpin lain, tokoh-tokoh dan semua elemen bangsa tidak mendukung. Karena itu, ketika ada pemimpin yang kebakaran jenggot gara-gara ada pemimpin parpol tertentu diperiksa polisi, kita pun ragu. Bagaimana jika dia jadi presiden atau wapres? Jangan-jangan ia pun tak rela kalau donaturnya, kenalannya, sahabatnya, mantan atasannya, saudaranya, iparnya diperiksa aparat penegak hukum. Jika ini yang terjadi maka masyarakat luas terutama wong cilik yang kini euforia berkat penegakan hukum ala SBY, bisa terancam melempem. Orang terjebak stigma lama, hukum tak pernah menyentuh orang atas; hukuman hanya ada pada maling kecil dan wong cilik belaka. Ini berarti kemunduran. Setback ke kehancuran hukum dan keadilan pada era-era sebelum SBY.
Lawakan Ala Cilacap
Tradisi & Budaya
|
Penyelamatan Ribuan Wayang Kuno Terkendala Dana Minggu, 17 Mei 2009 03:19 |
|
Komunitas Pinggir Ajarkan Tradisi Menulis di Kalangan Remaja Kamis, 12 Maret 2009 09:47 |
|
Sedekah Laut Sedot Wisatawan ke Cilacap Selasa, 13 Januari 2009 12:14 |
Lain - Lain
|
Aktivis Seni Semarang Berduka Atas Kematian WS Rendra Jumat, 07 Agustus 2009 19:45 |
|
Terimakasih Toek Seorang Bernama Kuper Senin, 30 Maret 2009 12:57 |
|
Bayi Kembar Siam Asal Ambon Meninggal Minggu, 15 Maret 2009 08:24 |
|
Petir Menyambar Rumah Warga Rabu, 25 Februari 2009 08:45 |















Comments